News

Menggadai Nyama Demi Sekolah, 40 Anak di Aceh Utara Menyusuri Sungai Dengan Perahu

3
×

Menggadai Nyama Demi Sekolah, 40 Anak di Aceh Utara Menyusuri Sungai Dengan Perahu

Sebarkan artikel ini

BATAS ACEH | Aceh Utara – Sebanyak 40 siswa yang menetap di Dusun Biram, Gampong Plu, Pakam, Kecamatan Tanah Luas, harus menempuh perjalanan berisiko setiap hari demi bisa bersekolah di SD Negeri 7 Desa Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara.

Mereka menyeberang sungai menggunakan sampan dan speed boat tanpa mesin, hanya ditarik menggunakan tali dari seberang ke seberang.

Kepala Dusun Biram, Desa Plu Pakam, Nariman, menyebutkan sejak dulu di daerah tersebut sama sekali tidak ada jembatan penghubung. Satu-satunya akses bagi masyarakat dan khususnya siswa adalah menggunakan sampan dan speed boat sederhana dengan tali sebagai penarik.

“Sebelum menggunakan speed boat, kami di sini menggunakan sampan. Speed boat itu kami beli dari hasil swadaya masyarakat,” ujar Nariman kepada awak media, Kamis (23/4/2026).

Dia mengakui tali yang digunakan sebagai penarik itu pernah putus dan bahkan pernah terjadi kecelakaan kecil, yaitu siswa jatuh ke sungai. “Tidak ada korban jiwa saat kejadian itu. Karena saat itu debit air tidak tinggi,” ujarnya.

Baca Juga :  Wujudkan program Indonesia Asri, Pemko Lhokseumawe Tertibkan Usaha Walet Tanpa Izin dan Segel Sejumlah Lokasi

Selain itu, pihaknya sudah pernah menyerahkan surat permohonan untuk membangun jembatan di wilayah tersebut. Bahkan, lokasi itu juga pernah didatangi dua kali oleh pihak terkait untuk melakukan peninjauan. Hingga, saat ini belum ada tindak lanjut sama sekali.

“Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah dan anggota dewan yang ada di provinsi maupun daerah. Jangan sampai ada korban baru kemudian ditindaklanjuti,” katanya.

Sementara itu, Dewan Guru SD Negeri 7 Paya Bakong, Rina Fariani, mengatakan jumlah murid yang belajar di sini ada 201 siswa. Namun 40 siswa yang berada di Dusun Biram Gampong Plu Pakam yang paling terdampak keterbatasan akses.

Baca Juga :  Musrembang 2027, Mualem Fokus Berantas Kemiskinan dan Mitigasi Bencana

Dia mengakui prihatin dengan kondisi tersebut. Bahkan jika cuaca tidak mendukung, para siswa tersebut sering terlambat mengikuti pelajaran.

Dia menambahkan bahwa ketika kondisi debit air rendah, siswa nekat menyeberangi sungai dengan berjalan kaki. Akibatnya, mereka sering tiba di sekolah dengan celana basah terendam air.

“Mereka sering terlambat karena harus menyeberang. Bahkan kalau air besar, mereka tidak bisa ke sekolah sama sekali. Kami berharap agar ada perhatian khusus dari pemerintah terkait kondisi ini,”pungkasnya.

Nariman bersama warga lainnya berharap pemerintah bersama warga lainnya dapat segera membangun jembatan gantung untuk akses penghubung antar desa yang dilalui warga menuju kesekolah maupun aktifitas lainnya,”ucap Nariman

“Sedangkan untuk akses lain penghubung antar desa tersebut sangat jauh puluhan kilo meter,jadi untuk satu satunya akses kesekolah itu menyeberang sungai ini,” tutupnya

Gagal memuat jadwal sholat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *