BATAS ACEH | Aceh Utara — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diminta untuk bekerja lebih cepat dan maksimal dalam menangani dampak bencana yang melanda wilayah Kabupaten Aceh Utara beberapa bulan lalu. Hingga kini, sejumlah lahan pertanian masih belum mendapatkan penanganan serius, terutama sawah yang rusak akibat banjir.
Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Aceh Utara, H. Abdul Mutaleb, menyampaikan bahwa kondisi ini sangat memprihatinkan karena mayoritas masyarakat terdampak merupakan petani yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
“BNPB harus bekerja lebih keras mengingat sudah beberapa bulan berlalu sejak bencana terjadi. Namun, masih banyak sawah yang terdampak belum mendapatkan penanganan serius,” ujar H. Abdul Mutaleb, Minggu (03/05/2026).
Ia menegaskan bahwa sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak dalam bencana tersebut. Kerusakan tidak hanya terjadi pada lahan sawah, tetapi juga pada infrastruktur pendukung seperti saluran irigasi yang hingga kini belum sepenuhnya diperbaiki.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi memperpanjang penderitaan petani, bahkan mengancam ketahanan pangan lokal jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, ia mendesak adanya langkah percepatan dari pemerintah, khususnya BNPB, dalam proses pemulihan.
“Petani membutuhkan penanganan khusus, baik dalam perbaikan sawah maupun infrastruktur saluran irigasi. Kami meminta adanya percepatan agar petani bisa kembali berproduksi,” tegasnya.
DPD Tani Merdeka Aceh Utara berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat lebih responsif terhadap kondisi di lapangan, dengan menjadikan pemulihan sektor pertanian sebagai prioritas utama pascabencana. Tanpa intervensi yang cepat dan tepat, dikhawatirkan dampak ekonomi bagi masyarakat akan semakin meluas.












