NEPAL
Korban tewas akibat banjir dahsyat yang melanda Nepal dan China bertambah menjadi 478 orang, sementara lebih dari 1.200 orang masih hilang, termasuk ratusan warga negara asing, saat pemerintah Nepal mulai menghitung skala kerusakan akibat bencana tersebut pada Jumat.
Kepolisian Nepal mengatakan jumlah korban tewas akibat banjir yang terjadi pada Rabu telah mencapai 475 orang, menurut laporan Kathmandu Post.
China mengonfirmasi tiga korban tewas di Daerah Otonomi Xizang di wilayah barat daya negara itu, yang juga dikenal sebagai Tibet, sehingga jumlah korban tewas di kedua negara mencapai 478 orang.
Banjir dan tanah longsor menerjang wilayah utara dan tengah Nepal pada Rabu dini hari, menyapu permukiman di sepanjang Sungai Bhotekoshi dan Trishuli serta menyeret warga dan puing-puing ke hilir.
Kementerian Luar Negeri Nepal mengatakan 596 warga dari 33 negara masih dinyatakan hilang.
Sebanyak 127 warga Nepal lainnya juga belum diketahui keberadaannya, menurut Badan Pariwisata Nepal.
China mengatakan 558 orang, termasuk 260 warga negara asing, masih hilang di Tibet saat operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung.
Data yang disampaikan Nepal dan China menunjukkan sekitar 1.281 orang masih hilang, termasuk 856 warga negara asing.
Kelompok warga asing terbanyak yang hilang berasal dari negara tetangga India, yakni 288 orang, termasuk 73 warga India yang bekerja di Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Trishuli-1.
Ratusan warga, pekerja konstruksi, dan wisatawan di daerah terdampak di Kabupaten Gyirong, Tibet, telah dievakuasi dan ditempatkan di lokasi yang lebih aman, menurut kantor berita pemerintah China, Xinhua.
Pendataan kerusakan dimulai
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Nepal Lok B. Chhetri mengatakan kepada Anadolu pada Jumat bahwa pemerintah telah mulai mendata kerusakan akibat bencana tersebut.
“Lembaga-lembaga keamanan kami saat ini menangani situasi secara efektif,” kata Chhetri dalam pernyataan tertulis.
Ketika ditanya apakah Nepal telah meminta bantuan internasional, Chhetri mengatakan permintaan dapat diajukan untuk layanan tertentu yang bersifat khusus seiring berlanjutnya operasi penanganan bencana.
Skala keseluruhan bencana masih belum diketahui secara pasti karena pihak berwenang terus mencocokkan data korban tewas dan orang hilang dari berbagai wilayah.
“Mengingat kerusakan besar pada infrastruktur penting, pendataan sedang dilakukan dan bantuan yang dibutuhkan akan diminta sesuai keperluan,” kata Chhetri.
Banjir dan tanah longsor menyapu rumah, jembatan, jalan, serta infrastruktur lainnya di wilayah utara dan tengah Nepal, menyebabkan sejumlah komunitas dan pelancong terputus dari wilayah lain di negara tersebut.
Operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung dengan melibatkan Tentara Nepal, Kepolisian Nepal, dan Angkatan Kepolisian Bersenjata dalam upaya pencarian, penyelamatan, serta evakuasi.
Helikopter digunakan untuk menjangkau daerah-daerah yang terisolasi dan mengevakuasi para penyintas, sementara tim darat terus melakukan pencarian di sepanjang bantaran sungai dan permukiman di wilayah hilir.
Badan Pariwisata Nepal mengatakan pihaknya terus memverifikasi keberadaan wisatawan dan pelancong yang berada atau melintasi Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading ketika banjir melanda.
Banjir juga menyebabkan kerusakan parah pada jalur transportasi dan infrastruktur lainnya sehingga semakin mempersulit operasi penyelamatan di daerah terdampak.












